Ketika Jalanan Menjadi Cermin: Pelajaran Berharga dari Gesekan Sosial di Kota

Gesekan antara pengemudi daring dan mahasiswa bukan sekadar bentrokan jalanan. Ini cermin retaknya ruang publik dan panggilan untuk membangun empati sosial.

Ketika Jalanan Menjadi Cermin: Pelajaran Berharga dari Gesekan Sosial di Kota

Ketika Jalanan Menjadi Cermin: Pelajaran Berharga dari Gesekan Sosial di Kota

Bayangkan sebuah jalan raya yang bukan hanya aspal, tetapi panggung tempat berbagai kepentingan bertemu. Di satu sisi, mahasiswa turun ke jalan menyuarakan aspirasi; di sisi lain, pengemudi ojek daring berjuang mengejar penghasilan. Ketika dua gelombang ini bertemu, bukan kolaborasi yang terjadi, melainkan gesekan. Inilah realitas yang pernah terjadi di kawasan perkotaan, dan dari sana kita bisa belajar banyak tentang betapa rapuhnya ruang publik kita. Mari kita renungkan bersama: mengapa hal ini bisa terjadi, dan bagaimana kita bisa bangkit untuk menciptakan harmoni?

Daftar Isi

Friksi Kepentingan di Jalur yang Sama: Ketika Dua Dunia Bertabrakan

Setiap hari, jalanan kota menjadi saksi bisu pertemuan dua kelompok dengan urgensi yang berbeda. Mahasiswa, dengan semangat menggebu, menggunakan badan jalan sebagai ruang artikulasi politik. Aksi unjuk rasa mereka bertujuan menarik perhatian publik dan menekan pembuat kebijakan. Pembatasan akses jalur menjadi instrumen unjuk kekuatan simbolik—sebuah pesan bahwa suara mereka harus didengar. Di sisi lain, pengemudi ojek daring bekerja di bawah kendali algoritma yang menuntut ketepatan waktu, efisiensi rute, dan pemenuhan target harian. Terhambatnya akses jalan langsung memotong pendapatan riil dan berisiko mendatangkan penalti performa dari sistem aplikasi. Ketika dua desakan ini bertemu tanpa mediasi, gesekan kecil di garis depan unjuk rasa dengan cepat menyulut eskalasi fisik. Adu argumen saat melintasi barisan demonstrasi dapat segera berujung pada perusakan properti dan benturan massal.

Dalam situasi seperti ini, kita diingatkan bahwa konflik horizontal sering kali lahir bukan dari kebencian, melainkan dari keputusasaan yang bertemu. Mahasiswa memperjuangkan keadilan kebijakan, sementara pengemudi daring memperjuangkan nafkah harian. Keduanya sama-sama rentan, sama-sama berjuang. Namun, tanpa jembatan komunikasi, perbedaan kepentingan berubah menjadi permusuhan.

Solidaritas Mekanis dan Kecepatan Mobilisasi Algoritmik: Kekuatan yang Bisa Menjadi Pedang Bermata Dua

Ciri paling kentara dari dinamika pekerja sektor ekonomi gig adalah kecepatan konsolidasi massanya. Jaringan grup pesan instan yang sehari-hari berfungsi sebagai bantalan perlindungan mandiri—untuk berbagi rute atau informasi darurat—dapat berubah seketika menjadi kanal mobilisasi fisik. Penyebaran cuplikan video pendek tanpa konteks utuh di media sosial memantik apa yang disebut Émile Durkheim sebagai solidaritas mekanis: kerugian yang dialami satu anggota dipandang sebagai ancaman langsung terhadap martabat seluruh paguyuban. Ratusan pengemudi dapat bergerak mendatangi titik lokasi dalam waktu singkat, melampaui kemampuan negosiasi lapangan maupun pengendalian awal aparat setempat.

Fenomena ini menunjukkan betapa teknologi dapat mempercepat solidaritas, tetapi juga mempercepat eskalasi. Jika tidak dikelola, solidaritas mekanis ini bisa menjadi bumerang yang merugikan semua pihak. Namun, jika diarahkan dengan bijak, kekuatan yang sama dapat menjadi kekuatan untuk membangun, bukan merusak.

Refleksi: Menghindari Jebakan Konflik Antar-Warga

Tragedi dari bentrokan horizontal ini adalah hilangnya empati antara dua kelompok yang sebenarnya memikul beban ketidakpastian struktural yang serupa. Mahasiswa turun ke jalan menyuarakan keadilan kebijakan publik, sementara mitra ojol berjuang menjaga kepastian nafkah harian. Pencegahan peristiwa serupa di masa depan menuntut langkah konkret:

  • Pengawalan Koridor Lalu Lintas: Pengendali aksi mahasiswa wajib memastikan adanya akses perlintasan bagi masyarakat pekerja agar demonstrasi tidak mengorbankan mobilitas warga rentan.
  • Verifikasi Internal Komunitas: Pimpinan komunitas ojek daring perlu membangun mekanisme penyaringan informasi internal guna meredam ajakan aksi balas dendam yang dipicu video viral sepihak.
  • Mediasi Formal Multi-Pihak: Otoritas kampus bersama kepolisian setempat perlu membuka forum komunikasi berkala bersama serikat pekerja transportasi untuk menyelesaikan insiden lapangan secara musyawarah sebelum bereskalasi menjadi kericuhan luas.

Langkah-langkah ini bukan sekadar solusi teknis, melainkan investasi dalam membangun budaya dialog dan saling pengertian. Seperti yang diulas dalam tulisan Pelajaran Pahit dari Bentrok UNM yang Mengubah Wajah Kampus, insiden kekerasan di lingkungan kampus menjadi cermin retaknya komunikasi sosial serta rapuhnya ruang publik saat dua kelompok warga beririsan di koridor jalan yang sama. Kita tidak bisa terus-menerus mengulangi kesalahan yang sama. Setiap konflik adalah panggilan untuk belajar dan berbenah.

Penutup: Menyalakan Pelita Harapan di Tengah Retakan Ruang Publik

Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa ruang publik bukan hanya tentang fisik, tetapi tentang hati dan pikiran yang saling terhubung. Gesekan antara pengemudi daring dan mahasiswa adalah alarm yang mengingatkan kita bahwa empati dan komunikasi adalah kunci. Sebagai motivator, saya percaya bahwa setiap tantangan adalah peluang untuk tumbuh. Mari kita jadikan peristiwa ini sebagai titik balik untuk membangun jembatan, bukan tembok. Mulailah dari diri kita sendiri: ketika melihat perbedaan, pilihlah untuk mendengar sebelum menghakimi. Mari kita rawat ruang publik dengan dialog, bukan konfrontasi. Karena pada akhirnya, kota yang hebat adalah kota yang warganya saling menguatkan. Jadilah bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. Bersama, kita bisa mengubah jalanan menjadi cermin persatuan, bukan perpecahan.

Referensi

Sumber / Referensi

Daftar Pustaka

Berikut adalah daftar referensi yang digunakan sebagai sumber informasi dan rujukan terverifikasi dalam penulisan artikel ini.

1
OFFICIAL

Infojakarta (2026). ketegangan yang berujung pada perusakan fasilitas kampus Universitas Negeri Makassar (UNM). Infojakarta.

https://infojakarta.blog/artikel/dari-aksi-damai-ke-ricuh-massal-pelajaran-pahit-dari-bentrok-unm-yang-mengubah-wajah-kampus

Catatan: Daftar pustaka disusun sesuai kaidah penulisan rujukan terverifikasi guna menjamin akurasi, transparansi, dan integritas data jurnalistik Hasbro.

Ketika Jalanan Menjadi Cermin: Pelajaran Berharga dari Gesekan Sosial di Kota | Hasbro | Hasbro